Langsung ke konten utama

Vladivostok, My Starting Place

Tahun 2009 adalah awal dimana saya mulai berani untuk tampil di muka umum (bahkan langsung ke luar negeri). Hmmm .... maklum saya ini tipikal orang yang tertutup dan pemalu banget (saking pemalunya mau nanya ke orang aja harus mikir 100x dulu). Sumpah ini benar-benar menjadi ajang pembukaan diri sejak beberapa tahun lamanya semedi di Goa Hiro *lebay.

Semula berawal dari nenek saya, dia menginginkan saya meneruskan jejak tante. Sejujurnya, paksaan nenek saya bikin stres berat. Kenapa coba? Gimana nggak stres, secara saya sama sekali belum pernah melakukannya. Tak hanya itu saja, yang paling mengerikan buat saya adalah tampil di muka umum. Haduh .... bagaimana ini?!

Pada akhirnya saya pun menyanggupinya, kebetulan pada saat nenek ngomongin masalah itu, mereka lagi bermain di rumah saya. Mendengar hal yang dibicarakan nenek saya di depan mereka, lantas mereka pun menghasut saya untuk ikut.

Mereka menghasut saya demikian, karena proyek ini bakal membawa saya ke luar negeri, yaitu ke Rusia. Baiklah kembali ke permasalahan, jangan mikir yang enak-enak dulu. Sejujurnya stres banget! Untuk ke luar negeri ini, saya harus ekstra latihan keras untuk bisa melakukannya.

Nah, disini saya merasa beban semakin berat, karena harus belajar secara instan dan mengenal orang baru lagi untuk bisa dapat chemistry. Selain itu yang terpenting adalah menjaga nama baik tante yang sudah mau menyelipkan saya yang amatiran ini untuk ikut membantu mempromosikan Indonesia.

Astaga, belajar secara instan itu susah! Saya juga harus kenalan dengan orang baru pula. Namun, kalau malu terus kapan saya bisa maju? Yang ada nanti malu-maluin si tante. Akhirnya saya mencoba untuk menghilangkan rasa malu tersebut dengan mau membuka obrolan dengan mereka, walaupun masih kaku macam 'kanebo kering'. 
 
Sumpah saya kaku banget memulai obrolannya! Tapi, kekakuan saya pun berangsur mulai pudar, berkat keramahan mereka menghadapi saya si orang baru ini, bahkan saya sudah bisa melontarkan celetukan-celetukan garing ke mereka. Nah, berangkat dari situlah chemistry mulai terbentuk dan beban saya jadi sedikit ringan.

Hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Kami bertolak dari Jakarta menuju ke Vladivostok. Astaga naga lady gaga .... !!! Ini kali pertama saya naik pesawat, gila sesekalinya naik pesawat langsung ke luar negeri!!! Ini ajaib .... !!!

Transit di bandara Incheon, Korea Selatan

Sesampainya di Vladivostok. Kami sudah dijemput oleh orang-orang dari kedutaan. Mereka ramah dan sangat menolong kami. Lalu, kami dibawa menuju ke hotel untuk beristirahat sejenak. Setelah beristirahat, kami diajak berkeliling Vladivostok untuk sekadar berfoto-foto, melihat suasana disini dan juga makan.

Ternyata makanan orang Rusia kurang cocok sama lidah orang Indonesia, jadi orang kedutaan tersebut mengajak kami untuk makan di restoran China yang ada disana. Setelah puas berkeliling, kami diantar kembali ke hotel untuk beristirahat, karena besok pagi kami dijadwalkan untuk menari. 

Pagi pun tiba, kami lantas bersiap-siap karena sudah dijemput oleh orang kedutaan. 

Cerita saya hampir berakhir nih, guys! Namun, ada cerita yang menurut saya sedih dan lucu. 
Gladi Resik

Mau tau sedihnya kenapa? Karena jika di Indonesia saat ini sedang asyik-asyiknya merayakan hari raya lebaran dengan salat ied dan makan ketupat bersama keluarga tercinta. Namun, kami malah ada di Rusia dan jauh dari keluarga. Memang terasa sedih, tapi ada lucunya juga, karena saat kami ingin melaksanakan salat ied (alhamdulillah, ternyata orang Rusia lumayan banyak yang beragama Islam) di sebuah lapangan besar dekat rumah susun dan TK, saya beserta teman-teman perempuan saya nekat menerobos shaf laki-laki (maksudnya lagi nyari shaf perempuan). 

Selagi kami menerobos shaf laki-laki, para laki-laki muslim Rusia pun melihat kami terheran-heran (mungkin dalam hati mereka "Buset gila, nih cewek-cewek pada mau ngapain nerobos shaf cowok?"). 

Waduh .... udah menerobos, kok shaf perempuan nggak ada ya? Kami pun bingung, lalu ada seorang staf kedutaan yang memanggil kami dan memberitahu kami bahwa disini cuma ada shaf laki-laki aja. Setelah diberitahu begitu kami tidak langsung menyerah, kami tetap berusaha untuk salat ied di TK dekat lapangan tersebut. Saat kami sedang menggelar sajadah, tiba-tiba datang seorang wanita dengan berbahasa Rusia. Siapakah gerangan? Kami juga nggak paham apa yang dibicarakannya. Namun, dari gelagatnya mungkin dia nggak suka kalau kami salat di TK-nya dia *sotoy


Pemusik bersama Muslim Rusia

Yasudah, akhirnya kami menyerah untuk nggak salat ied dan berlalu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, tante saya yang melihat mereka lesu dan sedih, karena nggak bisa salat ied, akhirnya mengeluarkan kue-kue lebaran dalam tasnya untuk dibagikan ke teman-teman lainnya sambil mengucapkan selamat lebaran juga. Suasana di mobil mendadak jadi ramai, tapi teman sebangku saya ini si Lisa nggak nyadar apa lagi 'kobam'? Padahal, di dalam mobil pada teriak-teriakan, "Selamat Lebaran ya .... mohon maaf lahir batin."

Namun, Lisa dengan polosnya bertanya ke saya,"Eh Gia, siapa yang ulang tahun emang?"

Spontan teman-teman yang lain langsung nengok ke Lisa dan tertawa terbahak-terbahak sambil nyeletuk, "Woy Lisa, ini kan hari lebaran tau! Masa lo nggak inget sih? Hahaha .... mosok lagi pada minal aidin, lo bilang ulang tahun??? Bolot bener dah lo"

Haduhhh .... dasar Lisa, ada aja kelakuannya yang bikin teman-teman lain tertawa, tapi berkat dia suasana sedih jadi riang begini sih. Makasih ya, Lisa dan juga tante saya yang udah bawa kue-kue lebaran ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Singkat [Kissing] Belajar Bahasa Rusia di PKR

Russian Center for Science and Culture Ketertarikan saya pada Rusia diawali dengan perginya saya ke kota Vladivostok, yang berada di pinggiran Rusia dan berdekatan dengan Korea Selatan. Setelah belajar huruf 'cyrilic' secara otodidak, kemudian saya mencari informasi tentang belajar bahasa Rusia lalu langsung mendaftarkan diri di Pusat Kebudayaan Rusia (PKR) yang terletak di Jl. Diponegoro No.12, Menteng tersebut. Bisanya saya belajar bahasa Rusia, padahal bahasa Inggris saja masih berantakan dan cenderung lebih ke pasif. Tapi ya mungkin memang sudah takdirnya saya harus mengenal bahasa Rusia dibanding bahasa-bahasa lainnya yang sudah terkenal dan digemari orang Indonesia kebanyakan, seperti bahasa Jepang, Perancis, Mandarin, dll. Mengambil keputusan untuk belajar bahasa Rusia seperti mengenang kembali kejayaan Soekarno pada masa itu, dimana Presiden pertama Indonesia itu bersahabat dengan petinggi Uni Soviet Nikita Krushchev sehingga berdirilah sebuah mesjid biru yang te...

Lowongan Kerja "Bodong"

Ini adalah pengalaman saya ditipu dengan orang yang katanya bekerja di  Istana Negara . Selama BBM-an dia mengaku bernama  Bayu Hady Septian . Namun, saya rasa itu nama samaran bukan nama aslinya. Awalnya, saya tahu kontaknya Bayu itu dari teman saya, Arief yang ternyata tertipu lowongan kerja bodong juga. Arief ditawari sebagai staf peralatan dan saya sebagai staf seni budaya. Sebenarnya dari yang diberitahu teman saya tentang mekanisme lamaran kerja yang harus bayar dulu sebelum kerja itu agak mencurigakan, tapi karena perkataan Arief bahwa temannya ada yang sudah bekerja di Istana Negara berkat si Bayu 'penipu' itu dan juga Arief sudah bayar, jadilah saya terbawa arus sesat nan menjebak ke dasar lautan *maaf lebay Awal mula BBM-an (cie) Yuk apply rame-rame Modus penipu (Bayu) ini meminta uang sebesar Rp700.000 , katanya untuk biaya admin yang meliputi seragam, koperasi simpan-pinjam, asuransi, pensiunan dan  medical check-up  yang bekerjas...

Menyiasati Rasa Bersalah yang Berlanjut

” Guilty feelings ” adalah rasa bersalah yang mendalam pada diri pribadi seseorang yang biasanya berakar pada luka batin pada masa lalu yang dihayati seseorang serta berkembang ke arah rasa kurang percaya diri, rasa hampa, dan cemas berkelanjutan. Untuk menyiasati   guilty feelings   berlanjut, ada berbagai tahapan praktis latihan : (1) Analisis masalah: bila pada masa lalu, misalnya kita dihadapkan pada tekanan psikis dan fisik yang di luar kemampuan kita untuk mengatasinya, tentu saja kehidupan lanjut akan diwarnai oleh perasaan tertekan. Rasa tertekan di rumah bisa saja membuat diri kita berontak di luar rumah (main dengan siapa saja, melampiaskan kebutuhan lepas dari tekanan dengan bergaul dengan teman yang kurang baik, terbawa nakal, dan menggunakan narkoba, sebagai upaya penguatan eksistensi diri di luar rumah, yang justru sekembalinya di rumah makian dan kemarahan orangtua mengembalikan perasaan tertekan, cemas, dan kurang yakin diri. Perkembangan lanjut m...