Langsung ke konten utama

Apakah Ada Manusia yang Murni Idealis?

Berhijab tapi pacaran? Hmm... sebenarnya dari agama sih berhijab atau nggak emang dilarang buat pacaran. Namun, tampaknya hampir semua orang mempunyai idealisme yang menyimpang dari isi pedoman agamanya. Entah mereka itu idealis atau realis, atau bisa juga seimbang antara realis dan idealis.

Dari tadi bahas idealisme dan realisme, apa sih maksud dari kedua kata itu?
Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu individu yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Sedangkan, realisme berarti sikap atau pola pikir yang mengikuti arus perkembangan di sekitarnya.


Kamu tipe yang mana?


Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba bahas idealisme dan realisme? Udah gitu bikin contoh pada awal tulisannya tentang hijab. Eh, terus mana bawa-bawa agama pula. Pada dasarnya nggak ada maksud apa-apa sih, hanya ingin beri contoh demikian. Jujur saya memang belum sepenuhnya berpegang erat pada pedoman agama saya sendiri.

Masih banyak perintahnya yang saya "tawar", walau sebenarnya saya tahu itu baik dan wajib dilakukan oleh wanita yang beragama. Ada saja perintahnya yang masih dilanggar, seperti tidak menutup aurat, bersalaman atau berdekatan dengan yang bukan muhrim, mendengarkan musik yang mendorong perilaku manusia menjadi liar, dan masih banyak hal lainnya yang saya tawar.

Arti kata tawar di sini bagi saya adalah mengakui ajaran itu benar, tapi mengondisikan pada diri sendiri untuk menerapkannya pada hari di mana sadar itu akan datang (Ya, walau kesadaran itu harusnya dijemput bukan ditunggu). 

Sedikit cerita, waktu saya lagi suatu pusat perbelanjaan tiba-tiba ada sepasang kekasih yang sedang menuruni eskalator. Pasangan itu mesra sekali, yang cowok dengan asyiknya memeluk pinggang ceweknya yang berhijab. Bukan su'udzon atau apa, tapi kalau dilihat mereka bukanlah pasangan suami-istri (mungkin pacaran) karena usia mereka terlihat masih muda. Nah, melihat pemandangan ini, kadang saya merasa risih! Bukan karena saya iri atau apa, tapi saya sangat menyayangkan hijabnya. Memakai hijab berarti sudah melangkah maju menuju hijrah. 

Mengapa hijrahnya harus diselingi pacaran? Maaf saya mengkritik mbak, padahal saya belum pantas untuk mengkritik karena saya masih beberapa langkah di belakang mbak yang lagi hijrah. Tapi, saya tergelitik untuk mencurahkannya rasa ini. Hijab sekarang ini lebih mengarah ke agama Islam, walau sebenarnya para biarawati juga memakai penutup kepala seperti hijab. 

Hijab seakan menjadi simbol untuk wanita muslim. Nah, jika agama lain melihat hal demikian, tentunya mereka akan berpikir "Oh... ternyata wanita muslim boleh melakukan pacaran ya. Oh.. wanita muslim boleh mengumpat", dan sebagainya. Saran saya, sebaiknya jaga sikap dimanapun berada, karena kalian mengenakan simbol agama (tapi, bukan berarti saya menghalalkan yang tidak mengenakan simbol agama bebas berbuat apa saja lho...).

Jika wanita yang berhijab sudah melakukan pacaran, ini artinya ia melanggar pedomannya atau menawar ajaran yang sudah ada di kitabnya. Zaman sekarang, hal demikian dianggap lumrah sih. Padahal jika dilihat dari satu sisi, jelas dia mengingkari pedomannya dan membuat gerakan baru (idealis). Lalu, sisi lainnya bisa disebut realis juga, karena mereka cenderung mengikuti perkembangan zaman dan kondisi lingkungan sekitarnya.

Semakin sulit ya, kita menggolongkan diri sendiri ini cenderung idealis atau realis?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Singkat [Kissing] Belajar Bahasa Rusia di PKR

Russian Center for Science and Culture Ketertarikan saya pada Rusia diawali dengan perginya saya ke kota Vladivostok, yang berada di pinggiran Rusia dan berdekatan dengan Korea Selatan. Setelah belajar huruf 'cyrilic' secara otodidak, kemudian saya mencari informasi tentang belajar bahasa Rusia lalu langsung mendaftarkan diri di Pusat Kebudayaan Rusia (PKR) yang terletak di Jl. Diponegoro No.12, Menteng tersebut. Bisanya saya belajar bahasa Rusia, padahal bahasa Inggris saja masih berantakan dan cenderung lebih ke pasif. Tapi ya mungkin memang sudah takdirnya saya harus mengenal bahasa Rusia dibanding bahasa-bahasa lainnya yang sudah terkenal dan digemari orang Indonesia kebanyakan, seperti bahasa Jepang, Perancis, Mandarin, dll. Mengambil keputusan untuk belajar bahasa Rusia seperti mengenang kembali kejayaan Soekarno pada masa itu, dimana Presiden pertama Indonesia itu bersahabat dengan petinggi Uni Soviet Nikita Krushchev sehingga berdirilah sebuah mesjid biru yang te...

Lowongan Kerja "Bodong"

Ini adalah pengalaman saya ditipu dengan orang yang katanya bekerja di  Istana Negara . Selama BBM-an dia mengaku bernama  Bayu Hady Septian . Namun, saya rasa itu nama samaran bukan nama aslinya. Awalnya, saya tahu kontaknya Bayu itu dari teman saya, Arief yang ternyata tertipu lowongan kerja bodong juga. Arief ditawari sebagai staf peralatan dan saya sebagai staf seni budaya. Sebenarnya dari yang diberitahu teman saya tentang mekanisme lamaran kerja yang harus bayar dulu sebelum kerja itu agak mencurigakan, tapi karena perkataan Arief bahwa temannya ada yang sudah bekerja di Istana Negara berkat si Bayu 'penipu' itu dan juga Arief sudah bayar, jadilah saya terbawa arus sesat nan menjebak ke dasar lautan *maaf lebay Awal mula BBM-an (cie) Yuk apply rame-rame Modus penipu (Bayu) ini meminta uang sebesar Rp700.000 , katanya untuk biaya admin yang meliputi seragam, koperasi simpan-pinjam, asuransi, pensiunan dan  medical check-up  yang bekerjas...

Menyiasati Rasa Bersalah yang Berlanjut

” Guilty feelings ” adalah rasa bersalah yang mendalam pada diri pribadi seseorang yang biasanya berakar pada luka batin pada masa lalu yang dihayati seseorang serta berkembang ke arah rasa kurang percaya diri, rasa hampa, dan cemas berkelanjutan. Untuk menyiasati   guilty feelings   berlanjut, ada berbagai tahapan praktis latihan : (1) Analisis masalah: bila pada masa lalu, misalnya kita dihadapkan pada tekanan psikis dan fisik yang di luar kemampuan kita untuk mengatasinya, tentu saja kehidupan lanjut akan diwarnai oleh perasaan tertekan. Rasa tertekan di rumah bisa saja membuat diri kita berontak di luar rumah (main dengan siapa saja, melampiaskan kebutuhan lepas dari tekanan dengan bergaul dengan teman yang kurang baik, terbawa nakal, dan menggunakan narkoba, sebagai upaya penguatan eksistensi diri di luar rumah, yang justru sekembalinya di rumah makian dan kemarahan orangtua mengembalikan perasaan tertekan, cemas, dan kurang yakin diri. Perkembangan lanjut m...